Senin, 21 Januari 2013

Penanaman Akhlak Pada PAUD

Kedudukan akhlak dalam kehidupan manusia menempati tempat yang penting sekali, baik sebagai individu maupun seba­gai masyarakat dan bangsa. Sebab jatuh-bangunnya, jaya-han­curnya, sejahtera-rusaknya sesuatu bangsa, masyarakat dan bangsa, tergantung kepada bagaimana akhlaknya. Apabila akh­laknya baik akan sejahteralah lahir-batinnya, akan tetapi apabila akhlaknya buruk rusaklah la­hirnya dan atau batinnya.
Melihat betapa pentingnya peranan akhlak dalam kehidupan sehari-hari, maka lembaga pendidikan merupakan salah satu wadah yang diharapkan oleh masyarakat untuk memberikan bimbingan dan pengarahan kepada para siswanya tidak saja bimbingan dan pengarahan dalam hal ilmu pengetahuan tetapi juga dalam hal tata krama pergaulan. Sebab sekolah merupakan tempat latihan melak­sanakan etiket-etiket dan tata cara yang harus dipatuhi yang mempunyai sanksi kurikuler terhadap si anak, sehingga dengan demikian dapat dibina kebiasaan-kebiasaan dan dikembangkan­nya etiket-etiket yang baik menjadi akhlak si anak baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah.
Sebagaimana disebutkan di muka bahwa dalam faktor se­kolah sebagai salah satu pembentuk sumber akhlak mempunyai faktor-faktor yang penting di dalamnya, antara lain yaitu: guru. Faktor guru, peranannya sangat penting dalam sekolah se­bagai pendidik dan pengajar. Bagi anak yang belum, segala yang dilakukan guru itulah yang baik dan ideal, sehingga sikap dan tindakan guru selalu ditiru dan diteladani.
Apa yang diajarkan guru itulah yang dianggap benar dan itulah yang berkesan di ingatan anak, walaupun pelajaran guru itu salah; dan kalau ada orang lain yang bukan gurunya akan membetulkan, sukar bagi si anak murid untuk menerimanya, sebab berlainan dengan yang diajarkan oleh gurunya, dan kare­na anggapan bagi si anak, bahwa gurunyalah yang benar (Rachmat Djatnika, 1992:101).
              Pendidikan Agama diartikan sebagai suatu kegiatan yang bertujuan untuk membentuk manusia agamis dengan menanamkan akidah keimanan, amaliah dan budi pekerti atau akhlak yang terpuji untuk menjadi manusia yang takwa kepada Allah SWT (Basyiruddin, 2002: 4). Pendidikan Agama tidak hanya sekedar menyampaikan ajaran agama pada peserta didik, tapi juga menanamkan komitmen terhadap ajaran agama yang dipelajarinya (Mutholi’ah, 2002:1). Ia dapat menjadikan ajaran agama Islam sebagai way of life (jalan kehidupan).
              Pendidikan sebagai kebutuhan mutlak dalam kehidupan manusia yaitu untuk mengembangkan sumber daya insani berdasarkan nilai-nilai illahi, pendidikan juga merupakan cara yang paling tepat untuk menciptakan generasi yang kuat baik jasmaninya ataupun rohaninya. Khusus pendidikan yang mengarah ke rohani dapat ditempuh melalui pendidikan akhlak lebih-lebih pada anak.
              Taman kanak-kanak sebagai lembaga pendidikan untuk anak usia pra sekolah, dimana anak tersebut memiliki masa peka dan suka meniru terhadap perbuatan orang lain yang dikaguminya. Hal ini agar dimanfaatkan dalam rangka membentuk kepribadian anak sebagai penerus cita-cita bangsa selaku warga negara yang baik dan taat kepada ajaran agama dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Untuk mencapai tujuan tersebut sangat tergantung kepada corak atau warna pendidikan yang diberikannya. Apapun bentuknya pendidikan yang ditanamkan pada anak didik pada usia pra sekolah akan langsung mempengaruhi pembentukan jiwa anak selanjutnya (Nasrun, 1981:2).
              Untuk menunjang keberhasilan proses ini diperlukan metode dan media yang tepat, selalu disesuaikan dengan kondisi anak-anak, mudah dipahami, menggembirakan dan memberikan kesan yang lebih dalam di hati (Zuhairini dkk, 1983:49).
              Sayangnya, selama ini proses pembelajaran pengenalan nilai-nilai akhlak, guru masih kurang memberikan banyak contoh yang dapat diteladani dan tidak dapat diteladani. Artinya pembelajaran pengenalan nilai-nilai akhlak pada anak didik, selama ini masih menggunakan metode ceramah sehingga kurang terjalin komunikasi interaktif antara guru dan siswa. Salah satu metode yang layak diterapkan adalah penggunaan metode cerita. Dalam implementasinya, guru hendaknya memperbanyak contoh-contoh perbuatan baik dan buruk, sebagai upaya pengenalan sekaligus penanaman pemahaman nilai-nilai akhlak pada anak didik. Dan diharapkan penggunaan metode tersebut mampu meningkatkan kemampuan mereka terhadap pemahaman nilai-nilai akhlak.
              Dalam mengaplikasikan metode ini dalam proses belajar mengajar (PBM), metode ceritera merupakan salah satu metode pendidikan yang masyhur dan baik. Metode ini mempunyai pengaruh tersendiri bagi jiwa dan akal, dengan mengemukakan argumentasi yang logis. (Ulwan, 1988:77)
              Untuk itu pendidik perlu menyesuaikan kebutuhan dan karakteristik anak didik, hingga proses pembelajaran akhlak dengan metode cerita dapat tepat sasaran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar